Pukul 04.30 subuh, saya bersama 11 wali
lainnnya sudah harus membangunkan 75 anak di asrama. Ada yang langsung bangun,
ada yang masih mengigau, ada pula yang menangis karena mimpi buruk tentang masa
lalunya. Inilah realitas seorang wali (Wali asuh dan wali asrama) di Sekolah
Rakyat—sebuah posisi yang membuat saya tidak hanya menjadi pendidik, tetapi
juga pengganti orang tua, konselor, bahkan teman curhat di tengah malam. Dari
sinilah saya melihat Sekolah Rakyat dengan kacamata yang berbeda.
Siswa adalah Subjek Pendidikan, Bukan
Objek Bantuan Sosial
Salah satu apresiasi terbesar saya
terhadap konsep Sekolah Rakyat adalah filosofi dasarnya yang menempatkan
anak-anak sebagai subjek yang berhak mendapatkan pendidikan berkualitas,
bukan sekadar objek bantuan sosial. Kementerian Sosial telah merancang program
ini dengan visi yang jelas: memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan,
bukan sekadar memberi santunan semata.
Ketika pertama kali menjadi wali di asrama,
saya sempat khawatir bahwa anak-anak ini akan diperlakukan hanya sebagai
penerima belas kasihan pemerintah. Cukup beralasan, mengingat semua yang masuk
harus berstatus desil 1 dan 2 atau miskin ekstrem. Namun, sistem yang telah
disiapkan justru menunjukkan komitmen yang luar biasa. Kurikulum yang
diterapkan sudah memiliki standar, bahkan dalam beberapa aspek lebih terstruktur.
Fasilitas yang disediakan bukan sekadar cukup, tetapi dirancang untuk mendukung
proses belajar yang optimal: perpustakaan, laboratorium, ruang keterampilan,
hingga program ekstrakurikuler yang beragam.
Yang paling mengesankan adalah bagaimana
ekspektasi tinggi ditanamkan sejak awal. Anak-anak tidak dimanjakan
dengan standar rendah karena latar belakang ekonomi mereka. Sebaliknya, mereka
ditantang untuk berprestasi, didorong untuk bermimpi besar, dan dibimbing untuk
percaya bahwa mereka mampu bersaing dengan siapa pun. Ini adalah bentuk
penghormatan tertinggi terhadap martabat mereka sebagai peserta didik.
Sistem Asesmen yang Komprehensif
Awalnya, saya memiliki kekhawatiran
tentang sistem seleksi yang hanya berbasis desil ekonomi (Desil 1 dan 2). Namun
setelah terlibat dalam proses penerimaan siswa, saya menyadari bahwa
Kementerian Sosial sebenarnya telah menyiapkan mekanisme yang jauh lebih
komprehensif dari yang terlihat di permukaan.
Asesmen awal yang dilakukan tidak berhenti pada
verifikasi kemiskinan. Ada tahapan-tahapan yang dirancang untuk mengenali
kondisi setiap anak:
- Asesmen
psikososial
yang melibatkan pekerja sosial untuk memahami latar belakang keluarga,
trauma, dan kebutuhan khusus setiap anak
- Tes
kemampuan dasar
untuk mengetahui posisi akademis anak saat masuk
- Pemeriksaan
kesehatan
menyeluruh termasuk aspek fisik dan mental
- Program
orientasi
yang disesuaikan dengan tingkat kesiapan masing-masing anak
Yang membuat saya kagum adalah sistem
pendampingan berjenjang yang telah disiapkan. Anak-anak dengan ketertinggalan
akademis mendapat program matrikulasi. Mereka yang memiliki trauma atau
kebutuhan psikologis khusus disambungkan dengan psikolog dan konselor. Bahkan
untuk anak dengan potensi istimewa, ada program akselerasi dan pengayaan.
Kementerian Sosial bekerja sama dengan
berbagai pihak—dari Kementerian Pendidikan, Dinas Kesehatan, hingga lembaga
psikologi—untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal atau tersesat dalam
sistem. Ini bukan program asal jalan, tetapi program yang terstruktur dengan
matang meskipun dalam implementasinya tentu ada tantangan di lapangan yang
terus diperbaiki.
Sekolah Rakyat: Wujud Nyata Amanat
Konstitusi
Pasal 34 UUD 1945 menyatakan bahwa
"fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara,"
sementara Pasal 31 menjamin hak setiap warga negara untuk mendapatkan
pendidikan. Sekolah Rakyat adalah manifestasi paling konkret dari amanat
konstitusional ini.
Saya menyaksikan bagaimana negara,
melalui Kementerian Sosial, tidak hanya memberi uang atau beras kepada keluarga
miskin, tetapi memberikan investasi jangka panjang: pendidikan berkualitas
dengan sistem asrama yang terkelola. Ini adalah terobosan kebijakan yang
visioner—memutus siklus kemiskinan dari akarnya.
Namun lebih dari itu, Sekolah Rakyat
membuktikan dan menciptakan sebuah harapan baru: bahwa untuk membangun
Indonesia tidak harus selalu dengan banyak uang, tidak harus dengan modal
berlimpah, tidak harus dari keluarga berada. Semua berhak membangun negeri.
Ini adalah revolusi paradigma yang luar biasa.
Di sinilah manifestasi nyatanya: seperti
yanga ada di SRT 35 Bandar Lampung, anak-anak penjual tisu eceran di
pinggir jalan yang selama ini dianggap sebagai beban sosial, ternyata
memiliki aset luar biasa untuk membangun negeri—kegigihan, kreativitas bertahan
hidup, dan mental juang yang tangguh. Anak Jalanan yang hidup di
komunitas marginal memiliki potensi membangun negeri—mereka memahami realitas
kemiskinan dan tahu persis apa yang dibutuhkan untuk mengangkat sesamanya. Anak
gelandangan yang tidur di kolong jembatan punya mimpi yang sama besarnya
dengan anak-anak dari keluarga mampu. Yatim piatu yang kehilangan orang
tua bukan berarti kehilangan masa depan. Anak-anak dari keluarga miskin
ekstrem yang bahkan kesulitan makan sehari tiga kali, ternyata punya
potensi intelektual yang sama dengan siapa pun jika diberi kesempatan.
Bayangkan: seorang anak yang kemarin
masih menjual tisu di lampu merah, hari ini duduk di bangku sekolah dengan
seragam rapi, belajar matematika, sains, bahasa Inggris. Seorang anak yang dulu
tidur di emperan toko, sekarang tidur di kasur yang nyaman di asrama, bangun
pagi untuk shalat subuh berjamaah, lalu belajar dengan bimbingan guru. Seorang
anak yang tidak pernah tahu rasanya makan kenyang, sekarang mendapat gizi yang
cukup (tiga kali sehari plus snack), dibimbing oleh tenaga pendidik yang
kompeten, dan yang terpenting—diperlakukan dengan penuh martabat sebagai
calon pemimpin masa depan, bukan objek kasihan.
Sekolah Rakyat mematahkan anggapan bahwa
pembangunan bangsa hanya bisa dilakukan oleh mereka yang lahir dengan
privilege. Tidak. Pembangunan bangsa adalah hak dan tanggung jawab setiap
anak Indonesia, tanpa memandang dari mana mereka berasal. Yang mereka
butuhkan hanyalah kesempatan yang setara—dan itulah yang disediakan oleh
Sekolah Rakyat dengan slogannya “cerdas bersama, tumbuh setara”.
Program ini membuktikan bahwa pemerintah
serius dalam melaksanakan tanggung jawab konstitusionalnya. Anggaran yang
dialokasikan tidak main-main, infrastruktur terus ditingkatkan, dan SDM
pendamping terus dilatih. Ini bukan program simbolis, tetapi komitmen nyata
untuk keadilan sosial yang memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk
menjadi aset bangsa.
Realitas di Lapangan: Tantangan yang
Diantisipasi dengan Baik
Sebagai wali asrama, saya berhadapan
dengan keberagaman yang luar biasa. Anak-anak datang dengan latar belakang yang
sangat beragam: ada yang dari keluarga broken home, yatim piatu, mantan
pekerja anak, atau yang memiliki pengalaman traumatis. Ada yang sudah lancar
membaca, ada yang masih kesulitan mengenal huruf di usia remaja. Ada yang ceria
dan mudah bergaul, ada yang tertutup dan perlu waktu untuk membuka diri.
Keberagaman ini adalah tantangan
sekaligus kekayaan program Sekolah Rakyat. Dan yang membuat saya bangga
adalah bagaimana sistem telah mengantisipasi kompleksitas ini:
Pertama, setiap asrama dilengkapi dengan tim
multidisiplin: wali asrama dan wali asuh yang tersertfikiasi, guru konselor,guru
berkompeten hingga seluruh tendik yang bijak dan mumpuni. Kami tidak bekerja
sendirian—ada sistem dukungan yang solid.
Kedua, ada protokol penanganan untuk berbagai
kasus. Anak yang mengalami trauma mendapat terapi. Anak dengan gangguan
perilaku mendapat pendampingan intensif. Anak yang sakit langsung ditangan.
Ketiga, pelatihan bagi wali asrama dan wali
asuh yang dibekali pengetahuan tentang psikologi anak, manajemen konflik,
penanganan trauma, bahkan teknik komunikasi efektif. Kementerian Sosial
memahami bahwa kami butuh kapasitas yang mumpuni, dan mereka menyediakannya.
Keempat, ada sistem monitoring dan evaluasi
yang ketat namun suportif. Bukan untuk mencari kesalahan, tetapi untuk
perbaikan berkelanjutan. Setiap kendala yang kami laporkan ditanggapi dengan
serius dan dicari solusinya bersama-sama.
Pada tataran teknisnya, tentu ada
momen-momen sulit. Ada malam ketika saya harus mendampingi anak yang menangis
sejadi-jadinya karena rindu rumah. Ada saat ketika konflik antar anak memuncak.
Ada situasi yang menguji kesabaran dan kemampuan saya. Namun berkat sistem yang
sudah disiapkan, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Selalu ada
tempat untuk bertanya, selalu ada tim untuk berdiskusi, selalu ada solusi yang
bisa diupayakan.
Pengabdian yang Bermakna: Ketika Jarak
Mengajarkan Makna Kehadiran
Ada satu aspek dari kehidupan wali
asrama dan wali asuh juga yang ingin saya bagikan dengan penuh kejujuran:
pergulatan batin antara pengabdian dan tanggung jawab keluarga. Rumah saya
berjarak hampir 30 menit perjalanan dari asrama. Setiap pagi saya berangkat
sebelum anak-anak bangun, pulang ketika mereka sudah mengantuk. Hampir setiap
hari, dalam perjalanan itu, kekhawatiran yang sama menghantui: Apakah saya
masih bisa menjadi ayah yang baik? Apakah saya masih bisa menjadi suami yang
hadir?
Saya khawatir akan kehilangan
momen-momen penting dalam tumbuh kembang anak kandung saya. Khawatir istri saya
harus menanggung beban domestik sendirian. Khawatir bahwa kesibukan saya dengan
puluhan anak di Sekolah Rakyat akan membuat saya absen dari kehidupan keluarga
sendiri. Di beberapa malam, ketika pulang larut setelah menangani krisis di
asrama, saya melihat anak-anak kandung dirumah sudah tertidur dan hati saya
mencelos—berapa banyak cerita mereka yang saya lewatkan hari ini? Namun, dalam
perjalanan pengabdian ini, saya menemukan hikmah yang tidak terduga.
Pertama, kualitas waktu mengalahkan
kuantitas. Karena waktu bersama keluarga menjadi terbatas, saya belajar
untuk benar-benar hadir saat bersama mereka. Tidak lagi sibuk dengan ponsel
atau pekerjaan saat di rumah. Setiap hari libur diluar jam piket menjadi sangat
berharga—kami merencanakan kegiatan bersama dengan lebih matang. Anak-anak saya
justru merasa lebih diperhatikan karena saya lebih fokus saat bersama mereka.
Kedua, anak-anak saya belajar
nilai-nilai yang tidak bisa diajarkan dengan kata-kata. Mereka melihat ayah
mereka pulang kelelahan namun tetap tersenyum karena berhasil membantu anak
asrama menyelesaikan masalah. Mereka mendengar cerita tentang teman-teman
sebaya mereka yang berjuang keras untuk bisa sekolah. Tanpa saya sadari, mereka
tumbuh dengan empati yang luar biasa, rasa syukur yang mendalam, dan pemahaman
bahwa hidup bukan hanya tentang keluarga sendiri—tetapi juga tentang memberi
untuk orang lain.
Ketiga, istri saya menjadi partner
sejati dalam misi ini. Awalnya memang berat—dia harus mengurus banyak hal
sendirian. Namun perlahan, dia memahami makna dari apa yang saya lakukan.
Bahkan, dia sering mengajak anak-anak untuk berkunjung ke asrama, membawakan
kue untuk anak-anak, ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan tertentu. Keluarga
saya menjadi bagian dari ekosistem Sekolah Rakyat, dan itu membuat pengabdian
ini menjadi perjuangan bersama, bukan beban yang saya pikul sendirian.
Keempat, anak-anak kandung saya
mendapat perspektif hidup yang berharga. Ketika mereka mengeluh tentang
sesuatu yang sepele, mereka teringat cerita tentang anak-anak di asrama yang
bahkan tidak punya apa yang mereka keluhkan. Ketika mereka malas belajar,
mereka teringat bahwa ada teman-teman sebaya mereka yang berjuang keras untuk
bisa membaca. Ini bukan tentang membuat mereka merasa bersalah, tetapi tentang
memberikan mereka kaca mata yang lebih luas untuk melihat kehidupan.
Kelima, dan ini yang paling mengejutkan:
saya menjadi ayah dan suami yang lebih baik. Pengalaman mengasuh puluhan
anak dengan latar belakang yang kompleks mengajarkan saya tentang kesabaran,
komunikasi, dan pemahaman yang lebih dalam. Skill yang saya kembangkan di
asrama—mendengarkan dengan empati, mengelola emosi, menyelesaikan konflik
dengan bijak—ternyata sangat berguna dalam kehidupan keluarga saya sendiri.
Saya tidak mengatakan ini mudah. Tetapi
dengan dukungan sistem yang ada, pengabdian ini menjadi perjalanan yang
sangat bermakna, bukan beban. Setiap kali ada anak yang berhasil naik
tingkat materi pembelajaran, keluarga saya merasakan kebanggaan yang sama.
Penutup: Semua Bisa Sekolah
"Sekolah Rakyat: Semua Bisa
Sekolah" bukan sekadar tema. Ini adalah bukti nyata bahwa
pemerintah serius dalam melaksanakan amanat konstitusi. Ini adalah demonstrasi
bahwa dengan perencanaan matang, sistem yang solid, dan komitmen kuat, kita
bisa memberikan pendidikan berkualitas kepada anak-anak dari keluarga tidak
mampu.
Dari perspektif saya sebagai wali asrama
yang setiap hari menyaksikan keajaiban transformasi ini, saya melihat masa
depan yang cerah. Saya melihat anak-anak yang dulunya tidak bisa membaca kini mulai
bangga dengan dirinya sendiri karena bisa membca. Saya melihat anak yang dulu
penuh trauma kini bisa tersenyum lebar dan bermimpi besar. Semoga kedepan
banyak lulusan Sekolah Rakyat yang berhasil menembus perguruan tinggi terbaik
atau mendapat pekerjaan layak, kemudian kembali untuk memberi kontribusi kepada
keluarga mereka.
Tugas kita semua adalah mendukung,
mengapresiasi, dan terus menyempurnakan program mulia ini. Karena setiap anak
yang berhasil dari Sekolah Rakyat adalah investasi terbaik untuk masa depan
bangsa. Dan itu dimulai dari bagaimana kita memandang setiap anak: bukan
sebagai objek bantuan, tetapi sebagai aset bangsa yang berharga—dengan
segala potensi, mimpi, dan hak mereka untuk bersinar.
Tentang Penulis:
Saya, M. Mansyur, S.Kom.I., M.Kom.I.,
seorang wali asrama di Sekolah Rakyat Terintegras 35 Bandar Lampung yang telah
mengabdikan diri untuk membimbing dan menemani perjalanan puluhan anak didik
layaknya mereka adalah keluarga saya sendiri. Sebagai seorang ayah dari dua
anak, saya memahami betul bahwa setiap siswa yang tinggal di asrama bukan
sekadar mencari ilmu, tetapi juga membutuhkan kehangatan, perhatian, dan
teladan yang baik. Bagi saya, menjadi wali asrama bukan sekadar profesi,
melainkan amanah mulia untuk mencetak generasi yang berakhlak, berprestasi, dan
siap menghadapi tantangan zaman. Motto kerja saya adalah "Mendidik dengan
Hati, Membimbing dengan Cinta, Membangun Masa Depan dengan Iman &
ilmu" – sebuah prinsip yang selalu saya pegang teguh dalam setiap langkah
pengabdian saya sebagai wali asrama.
