Bukan karena tugas yang belum selesai, bukan karena laporan yang menumpuk. Tapi karena sebuah pertanyaan kecil yang tiba-tiba muncul begitu saja, saat saya memandangi deretan tempat tidur di asrama yang sudah sunyi. Anak-anak sudah terlelap. Wajah-wajah mereka tenang. Beberapa bahkan masih menggenggam buku. Dan saya bertanya dalam hati "setelah semua ini, mereka akan ke mana?
Saya perlu jujur sejak awal: tulisan ini bukan kajian akademik, bukan pula analisis kebijakan yang disusun dengan referensi jurnal. Ini adalah opini yang dibangun dari mimpi dan dari bayangan-bayangan liar yang kadang muncul di sela-sela tugas harian saya sebagai seorang wali asrama di Sekolah Rakyat 35 Bandar Lampung.
Ya, saya bukan pengamat dari luar. Saya ada di dalamnya. Saya hidup bersama anak-anak ini, menyaksikan mereka bangun pagi, belajar malam, menangis lalu bangkit lagi. Tentu, tulisan ini, dengan segala keterbatasannya, hanyalah catatan dari bayangan-bayangan liar yang susah saya usir. Anggap saja ini diari yang kebetulan saya buka untuk umum.
Narasi utama di balik Sekolah Rakyat adalah memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Anak-anak dari keluarga desil 1 dan desil 2 , kelompok termiskin secara nasional diberi kesempatan mengenyam pendidikan berkualitas, lengkap dengan asrama, makan, seragam, hingga pembinaan karakter. Negara menanggung segalanya.
Ini luar biasa. Tapi lagi-lagi ada satu pertanyaan yang terus menggantung: lalu apa?
Mereka datang dari latar belakang yang beragam. Ada yang sebelumnya nyaris putus sekolah. Ada yang belum pernah tidur di kasur yang layak. Ada yang baru pertama kali melihat laptop. Motif mereka masuk pun bermacam-macam, ada yang didorong orang tua, ada yang datang karena tidak punya pilihan lain, ada pula yang benar-benar datang dengan mimpi besar yang sudah ia jaga sejak kecil.
Keberagaman inilah yang justru membuat saya percaya: mereka semua berhak mendapat kesempatan yang sama untuk melangkah lebih jauh.
Di sinilah bayangan itu muncul. Pertanyaan yang sesungguhnya bukan soal pesimisme , saya tidak sedang meragukan kemampuan anak-anak ini untuk bersaing masuk PTN favorit. Bukan itu. Tapi saya melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar soal nilai dan seleksi. Sistem yang ada , seleksi masuk perguruan tinggi, jaringan informasi kampus, kultur akademik, semuanya masih lebih ramah bagi mereka yang tumbuh di lingkungan yang sudah lama akrab dengan dunia itu. Bagi mereka yang punya kakak kelas yang kuliah, orang tua yang tahu cara daftar SNBP, atau akses ke bimbingan belajar berbayar.
Sementara anak-anak saya di asrama ini? Mereka sedang belajar bahwa dunia itu ada. Dan bahwa mereka berhak masuk ke dalamnya.
Maka bayangan liar itu pun terus berulang: akankah pemerintah, melalui Kementerian Sosial suatu hari mendirikan sebuah program lanjutan dari Sekolah Rakyat? Sebuah universitas rakyat, atau apalah sebutannya nanti, yang terafiliasi langsung dengan Sekolah Rakyat dan lahir dari rahim semangat yang sama?
Bukan universitas kelas dua. Bukan pula pelarian bagi yang tidak lolos PTN. Tapi sebuah institusi yang sejak awal memang dirancang untuk menjadi rumah bagi generasi ini yang memahami dari mana mereka berasal, dan tahu ke mana mereka seharusnya pergi.
Program Sekolah Rakyat membawa moto yang sangat indah dan saya sukai sekali diksinya: "Setara." Dan saya percaya pada moto itu. Saya melihatnya setiap hari, dalam cara anak-anak ini belajar, bermain, dan bermimpi tanpa merasa lebih rendah dari siapa pun.
Tapi nampaknya kesetaraan ini tidak boleh berhenti di garis ijazah SMA. Kesetaraan itu harus bisa finish di garis sarjana. Bahkan lebih jauh dari itu. Karena di era ini, gelar bukan sekadar kertas ia adalah tiket, jaringan, dan pengakuan yang membuka dunia. Kenyataannya, gelar sarjana berpeluang lebih tinggi agar meningkatkan taraf ekonomikeluarga, dan itu tujuannya program ini, memutus rantai kemiskinan.
Tentu saja, Universitas Rakyat tidak bisa lahir dalam semalam. Dan saya pun tahu, tulisan ini hanyalah suara kecil dari seorang wali asrama yang mungkin terlalu banyak melamun. bahkan tulisan ini lahir hanya bermodalkan "segelas kopi dan mimpi", tapi bukankah banyak hal besar dimulai dari bayangan-bayangan liar seperti ini?
Sejauh yang saya tahu, Menteri Sosial Gus Ipul sangat serius dalam mempersiapkan masa depan lulusan Sekolah Rakyat. Saya sangat bangga memiliki Menteri Sosial seperti beliau. dan saya bangga bisa berada di barisan perjuangannya. Beliau bahkan menegaskan: pilihan lulusan Sekolah Rakyat hanya ada dua menjadi pekerja terampil, atau menjadi sarjana. Hanya itu. Tidak ada pilihan ketiga yang bernama "kembali ke titik nol."
Persiapan demi persiapan dieksekusi. Tahapan demi tahapan dirancang. Dan saya percaya niat yg dibangun dengan sungguh-sungguh, akan bermuara pada hasil yang maksimal.
Tapi lagi-lagi, dari saya yang tidur dan bangun di tengah-tengah program ini , ada harapan yang terus saya bisikkan dalam hati: Semoga ada jalur afirmasi khusus di PTN bagi lulusan Sekolah Rakyat. Semoga KIP Kuliah diperluas dan diprioritaskan untuk mereka. Semoga ada program pra-universitas yang benar-benar mempersiapkan mereka, bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena sistem yang ada nampaknya belum sepenuhnya "setara" untuk mereka.
Dan semoga , entah kapan, entah dengan nama apa Universitas Rakyat itu benar-benar lahir. Sebuah kampus yang sejak batu pertamanya sudah dibangun di atas keyakinan yang sama: bahwa pendidikan berkualitas adalah hak, bukan keberuntungan.
Sekolah Rakyat adalah pernyataan moral yang kuat dari negara. Dan sebagai orang yang ada di dalamnya setiap hari, saya merasakannya , bukan sebagai slogan, tapi sebagai kenyataan yang hidup. Tapi pernyataan moral itu harus dijaga konsistensinya hingga benar-benar tuntas.
Malam semakin larut. Asrama masih sunyi.
Saya hanya seorang wali asrama. Saya tidak punya kuasa untuk mendirikan universitas, tidak punya akses ke ruang-ruang pengambil kebijakan, tidak punya nama yang cukup besar untuk didengar. Tapi saya punya mereka , anak-anak asuh yang setiap malam tidur dengan mimpi-mimpi besar di kepala mereka. Dan saya merasa bertanggung jawab, setidaknya, untuk menuliskan ini.
Catatan ini ditulis bukan sebagai kajian, melainkan sebagai kegelisahan. Dari seorang wali asrama yang hidup di dalam program ini , dan percaya bahwa mimpi yang belum selesai, layak untuk terus diperjuangkan.
Penulis : M.Mansyur,S.Kom.I,M.I.Kom | Wali Asrama SRT 35 Bandar Lampung
